Empat Jenis Manusia dan Pesan Syeikh Abdul Basith al-Fakhuriy

0 Comments



Syaikh Abdul Basith al-Fakhuriy, seorang Mufti Beirut di masa Daulah Utsmaniyyah banyak menulis kitab yang bisa diambil manfaatnya oleh generasi dimasanya dan juga dinikmati oleh generasi-generasi sesudahnya. Tidak hanya dijangkau oleh penduduk Beirut, namun kitab-kitabnya juga bisa dijangkau oleh orang diberbagai penjuru bumi. Tulisannya dianggap banyak kalangan bisa menjangkau apa yang tidak bisa dijangkau oleh lisan.

Diantara nasihat yang beliau sampaikan
"Manusia itu ada 4 macam :

Pertama, Orang yang tahu dan dia mengetahui bahwasannya dirinya tahu, maka dialah orang alim, ikutilah dia.

Kedua, Orang yang tahu dan dia tidak mengetahui bahwasannya dirinya tahu, maka dia bagaikan orang tidur, bangunkanlah dia.

Ketiga, Orang yang tidak tahu dan dia mengetahui bahwasannya dirinya tidak tahu, maka dia harus di arahkan, bimbinglah dia.

Keempat, Dia yang tidak tahu dan dia tidak mengetahui kalau dirinya tidak tahu, maka dia ini setan, jauhilah dia".

Sebagaimana Ulama' Ahlussunnah Wal Jama'ah lainnya, beliau tidak lepas untuk mengajarkan Aqidah Tanziih yakni mensucikan Allah ta'ala dari keserupaan makhluk-Nya. Hal itu terlihat dalam beberapa kitab beliau seperti dalam kitab al-Majalis as-Sunniyyah hal 2

قال "تنزّه اى الله عن المكان والزمان"

"Allah maha suci dari tempat dan masa". 

Dalam kitab yang sama, beliau menjelaskan tentang Aqidah Ummat Islam

قال : "لا ينبغي للإله الواحد الصمد أن يحتوى بمكان هو خالقه بل كان ربي ولا عرش ولا مَلَكٌ ولا سماء ورب العرش واجده وكـل من في مكان فهو مفتقر إلى المكان"

"Tidak layak bagi Allah al-Wahid ash-Shomad untuk bertempat di suatu tempat, karena Dialah Pencipta tempat. Tuhanku ada pada azal dan belum ada 'arsy, malaikat dan langit. Allah, Tuhan Penguasa 'arsy Yang Menciptakan 'arsy. Dan setiap yang bertempat berarti butuh kepada tempat". (al-Majalis as-Sunniyyah hal 119)

Dalam kitabnya yang lain, al-Kifayah li-dzawil-inayah hal 13 beliau berkata

"ولا يوصف بالكبر ولا بالصغر، وكل ما قام ببالك فالله بخلاف ذٰلك"

"Allah ta'ala tidak disifati dengan ukuran besar atau ukuran kecil. Apapun yang terlintas dalam benakmu, maka Allah tidak serupa dengannya"

Didalam kitab tersebut, beliau juga menjelaskan tentang Riddah yakni perkara yang menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam
, Mufti Beirut di masa Daulah Utsmaniyyah 
قال : "الردة وهي قطع مكلف الإسلام ولو امرأة بنية (اى اعتقاد) كفر أو فعل مكفر أو قول مكفر سواء قاله استهزاء أو اعتقادا أو عنادا. فمن أنواعها : أن يعزم الإنسان على الكفر أو اعتقد قدم هذا العالم أو عاب نبيا أو ملكا من الملائكة بشيء أو قال اليهود خير من المسلمين، فيكفر ويرتدّ بواحدة من المذكورات. وتجب استتابته في الحال. فإن تاب وأسلم بأن نطق بالشهادتين وأقرّ بما أنكره وتبرأ مما اعتقده أو تلفظ به قبل منه".

"Riddah adalah Memutus Islam yang dilakukan oleh orang mukallaf laki-laki maupun perempuan dengan meyakini keyakinan kufur atau melakukan perbuatan kufur atau mengucapkan perkataan kufur, baik dia mengucapkannya dengan tujuan mengolok-olok, meyakini, atau menentang. Diantara macam-macam riddah adalah seseorang berniat untuk kufur, atau meyakini bahwa alam semesta ada tanpa permulaan, atau mencela Nabi atau salah satu Malaikat, atau mengatakan "Yahudi lebih baik daripada kaum muslimin". Orang yang terjerumus dalam salah satu perkara tersebut, maka kufurlah ia dan gugurlah keislamannya. Dia harus di minta bertaubat seketika itu juga. Jika dia bertaubat dan masuk Islam kembali dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, mengakui apa yang ia inkari dan berlepas diri dari apa yang ia yakini atau ia ucapkan, maka diterimalah keislamannya".

Syaikh Abdul Basith al-Fakhuriy wafat pada sore hari Jum'at tanggal 2 Shafar 1323 H bertepatan dengan 1905 R. Hari meninggalnya merupakan hari berkabung bagi kaum muslimin di Beirut. Kesedihan mendalam atas meninggalnya salah Ulama' pewaris Nabi. Surat kabar banyak dipenuhi ungkapan turut berduka cita. Sementara itu, langit Beirut bergema oleh para muadzdzin yang mengumumkan kepergian sang Mufti.


Penggubah; Muhammad Sirril Wafa

Media NU

Media NU merupakan media berisi konten ke-Islaman, ke-NUan dan lainnya milik warga NU. Media NU diperuntukkan bagi warga NU pada khususnya dan bagi umat muslim pada umumnya.