Secercah Keindahan Al-Qur'an

0 Comments



Mentafsirkan Al-Qur’an bukanlah perkara yang ringan. Tidak setiap orang memiliki kemampuan dalam memahami bahasa Al-Qur’an yang begitu luhur nan tinggi. Untuk memahami untaian-untaian keindahan lafadz al-Qur’an, tentu haruslah menguasai tata bahasa dimana Al-Qur’an diturunkan dengannya, yakni tata bahasa Arab atau yang dikenal dengan ilmu Nahwu. Bahasa Arab merupakan bahasa yang kaya akan nilai-nilai sastra. Satu kata bisa jadi memiliki dua, tiga atau sepuluh makna. Satu kata yang sama, pada ayat yang berbeda, ada kalanya memiliki makna yang berbeda, bahkan berlainan.

Salah satu contohnya adalah huruf jar Lam. Dalam banyak tempat, huruf jar Lam digunakan untuk menunjukkan alasan atau sebab seseorang melakukan suatu perbuatan. Misalnya perkataan seseorang

جئتك لتعلّمني علم النحو

Aku datang agar kamu mengajariku ilmu nahwu, berarti dia datang dengan tujuan agar nantinya orang yang didatanginya mau mengajarinya ilmu nahwu.

Begitu juga firman Allah ta’ala

وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (الأنعام : ٧١)

Kami diperintahkan agar berserah diri kepada Allah, Tuhan semesta alam. Ada pembahasan menarik tentang lafadz al-‘Aalamiin yang in syaa Allah akan dibahas pada kesempatan berikutnya.
Namun, tidak semua huruf jar Lam adalah Lam at-Ta’lil. ada juga huruf jar Lam yang tidak menunjukkan ta’lil (alasan), melainkan untuk menunjukkan akibat suatu perbuatan, seperti firman Allah ta’ala

فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا (القصص : ٨)

Ayat ini turun berkaitan dengan Ibu Nabi Musa yang menaruh Musa yang masih bayi di dalam keranjang lalu mengklintirkannya di sungai Nil. Hal itu ia lakukan agar Musa tidak ditangkap dan dibunuh oleh pasukan Fir’aun. Sebelumnya Fir’aun menitahkan pasukannya agar mencari setiap bayi yang lahir dari Bani Israil pada tahun tersebut untuk dibunuh khawatir bayi itu akan menghancurkan kekuasaannya sebagaimana yang ia lihat dalam mimpinya. Kemudian, keranjang tersebut ditemukan oleh Sayyidah Asiyah, Istri Fir’aun. Ia pun mengambilnya dari sungai dan menjadikannya sebagai anak angkat.

Kalau huruf jar lam yang terdapat pada ayat ini dimaknai sebagai ta’lil, maknanya akan rancu. Tidak mungkin keluarga Fir’aun mengambil Nabi Musa dan mendidiknya agar menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Tentu, mereka mengambil anak angkat dengan tujuan agar Musa kelak menjadi penolong, pembela dan pembawa kegembiraan dimasa mendatang. Oleh karena itu, huruf jar Lam yang terdapat pada ayat ini adalah Lam al-Aqibah yaitu Lam yang menunjukkan ending suatu perbuatan. Sebagian Ulama’ menamainya dengan Lam as-Shairurah. Jadi, kira-kira makna ayat tersebut adalah “Maka keluarga Fir’aun mengambil musa agar menjadi kekasih dan kegembiraan bagi kehidupan mereka, namun ternyata dikemudian hari, Nabi Musa justru menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka”.

Jadi, janganlah berpedoman pada terjemahan al-Qur’an. Karena bagaimanapun juga, penerjemahan al-Qur’an _apalagi kata per kata_ adalah mereduksi (mempersempit) kandungan makna al-Qur’an yang begitu luas. Berpedomanlah kepada seorang guru yang tsiqah. Yang mempelajari makna al-Qur’an secara talaqqi kepada guru-gurunya. Karena kemurnian agama Islam akan senantiasa terjaga jika, ajaran-ajarannya diajarkan secara bersambung dan bersanad. Dari Rasulullah kepada Shahabat, dari Shahabat kepada Tabi’in, dari Tabi’in kepada Tabi’ut-tabi’in, dari Tabi’ut-tabi’in kepada generasi setelahnya, begitu seterusnya hingga sampai kepada kita.

Tanpa talaqqi (belajar kepada guru secara langsung), kemurnian agama Islam sedikit demi sedikit akan tergerus. Akan semakin banyak, ayat-ayat al-Qur’an, yang di tafsirkan dengan sekehendak hati. Tanpa mempertimbangkan kaidah Asbabun-Nuzul, Nasikh-Mansukh, Muthlaq-Muqayyad, Mujmal-Mufashshal, ‘Am-Khash dan kaidah-kaidah tafsir al-Qur’an lainnya. Begitu juga, untuk memahami hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, haruslah dengan talaqqi agar tidak terjadi kontradiksi antara satu hadits dengan hadits lainnya disebabkan salah memahami hadits. Belum lagi, banyaknya perkataan yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam padahal bukan sabda beliau. Bukan termasuk hadits sahih, hasan ataupun dla’if, melainkan hadits maudlu’ (hadits palsu).

Semoga kita menjadi pribadi yang semakin baik. Senantiasa menghadiri majelis-majelis ilmu agama. Syaikh Abdullah al-Harari pernah berkata “Ilmu agama adalah eksistensi Islam“. Semakin banyak orang yang belajar ilmu agama di suatu daerah, berarti Islam tumbuh subur di daerah tersebut. Sebaliknya semakin sedikit orang yang mempelajari ilmu, daerah tersebut adalah daerah yang gersang. Bela-lah agamamu dengan mempelajari ilmu agama.



Muhammad Sirril Wafa
Alumni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Guyangan, Trangkil, Pati. Mahasiswa Global University, Beirut, Lebanon.

Media NU

Media NU merupakan media berisi konten ke-Islaman, ke-NUan dan lainnya milik warga NU. Media NU diperuntukkan bagi warga NU pada khususnya dan bagi umat muslim pada umumnya.