Refleksi Harlah NU ke-93: Menghakimi NU

0 Comments



Mungkin pernah terlintas sebilah tanya di sela-sela kesibukan Anda berselancar di jagad medsos, “Mengapa ada bocah bau kencur dengan berani dan lantang mencaci-maki dan menuduh sesat Gus Mus dan Prof. Quraish Shihab juga ulama-ulama kharismatik yang lain?” Terang saja karena yang dihadapinya hanya Android dan sekadar dunia maya, bukan Gus Mus dan atau sang Mufassir langsung. Inilah ironi generasi milenial.

Tanpa disadari, kita sangat piawai untuk menyia-nyiakan hidup demi pencapaian dan kebahagiaan palsu, juga demi pencerahan-pencerahan ambigu, pun demi ibadah-ibadah semu dan kesalehan yang menipu, terutama di tahun-tahun politik paling memuakkan ini dengan alibi “hijrah”.

Sehingga, acapkali kita dapati oknum-oknum nahdliyyin sendiri yang malah latah menjelek-jelekkan NU dengan ujar-ujar murahan: “saya ini NU tulen, tapi NUnya kiai Hasyim Asy’ari bukan Said Agil Siradj yang liberal, Syiah, antek China dan Yahudi itu”. Terus terang saja, NU Garis Lurus dan Lebay sering meneriakkan propaganda negatif ini, khususnya di dunia maya. Mereka digerakkan dan tentu saja dibiayai oleh tangan-tangan tak terlihat (minal jinnati wan-nas) untuk merusak NU dengan cara merusak marwah pimpinan NU.

Pandangan picik macam ini segara viral melalui medsos dan grup-grup WA. Padahal kita bisa ber-NU ala Hadlratusy-syaikh KH. Hasyim Asy’ari secara struktural ya melalui PBNU, tidak ada lagi. Apapun itu, kita nahdliyyin wajib menghormati keputusan dan hasil muktamar. Dalih mempersatukan dan membersihkan NU yang kerap mereka usung justru membuat perpecahan di nama-nama. Belakangan, ormas-ormas radikal yang sering bawa pentungan dan bendera yang juga ngaku-ngaku NU, tetapi nyatanya malah menjelek-jelekkan PBNU dan mengadu domba Banser yang tetap konsisten menjaga NKRI, sebagai bangsa dan negara.

Lantas, di manakah marwah Ahlussunnah wal Jamaah yang diwadahi oleh NU? di manakah sikap moderat (tawassuth wal i’tidal) dan toleran (tasamuh), masih adakah tawazun dan tabayun di tengah gelegak zaman gila politik dan politik gila ini? Tidak usah cemas, Kisanak, NU tidak di mana-mana, tetapi ada di mana-mana dan di siapa-siapa! Yakinlah dengan doa para pendiri NU, bahwa mereka yang mengadu domba NU dan merusak NKRI itu sedang menggali kubur mereka sendiri.

Kita juga kerap mendapati gerombolan mabuk agama dan puber politik menyoal Tuhan dan memprotes agama dengan nada pesimis: “Mengapa Tuhan diam saja dengan kegaduhan politik ini? Di manakah Tuhan ketika terjadi penindasan umat Islam di mana-mana? Mengapa Tuhan membiarkan pemerintah yang lalim dan rezim despotik ini terus berkuasa?” Ujung-ujungnya ya jargon “kembali ke Qur’an Hadits” serta “tegaknya khilafah” di balik itu semua.

Meskipun mereka merasa dan bahkan jumawa bahwa langkah-kangkah politik meraka direstui Tuhan dan dikawal malaikat Jibril plus Izroil, Tuhan mau di mana dan bagaimana ya semau-mauNya, tak perlu apa dan bagaimana. Tuhan adalah pihak kedua ketika Anda sedang sendiri, menjadi pihak ketiga manakala Anda sedang berdua. Apabila Anda seorang pengkhotbah di gereja atau sinagog, maka Tuhanlah salah satu jemaat Anda. Dan, ini yang banyak politisi tengik, para begundal dan gerombolan bromocorah penjual agama, pengadu domba umat dan pengasong keributan dan khilafah tak percaya, setiap kali mereka rapat atau sidang menentukan, me-mark up, dan lalu menyunat anggaran, juga merancang tipu daya lima tahunan demi perut dan kelamin mereka, Tuhan juga sedang geleng-geleng sembari tersenyum di tengah-tengah mereka. Pun, jika ada mereka-mereka yang mau menghancurkan NKRI dengan cara merusak NU dengan cara melakukan politik pembusukan NU dari dalam, Tuhan hanya tersenyum. Tugas kita sederhana, yakni dengan tidak menjadi seperti mereka!

Sesekali, kalau Anda bosan karena terlalu sering piknik dan liburan ke luar sana, keluar jauh dari diri, tengoklah ke dalam diri Anda, masuklah ke relung paling dalam. Ada apa? Karunia paling berarti yang dihadiahkan Tuhan dalam hidup ini sesungguhnya bukalah berupa gelimang kekayaan, gemerlap jabatan, pesona wanita yang molek jelita, prestasi dan kemewahan hidup, akan tetapi kesempatan menalar, yakni kesempatan menjadi manusia yang berakal sehat—untuk menginsyafi betapa kita manusia sering mengecewakan guru-guru ngaji kita, kiai-kiai kampung penjaga tradisi NU yang darinya kita tahu Ahlussunnah wal Jamaah itu apa dan bagaimana.

Gerombolan ulat bulu dan serigala berbulu kelinci itu tak pernah berhasil menyerang dan meruntuhkan amaliah dan tradisi NU dengan dalil dan cara kotor apapun. Mengapa? Karena ada kiai-kiai kampung, guru-guru madrasah dan ibu-ibu muslimat yang tetap istiqomah menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah tanpa tapi, belum lagi menjamurnya UNU dan STAINU di seluruh penjuru negeri yang membuat kaum jenggot impor dan tak berjenggot kebakaran jenggot. Belum lagi puluhan ribu pesantren dan madrasah NU yang terus berbenah dan bersinergi. Oleh karena itu, mereka tak henti-henti menyerang Kiai Said, Gus Mus, Habib Luthfi, Mbah Maimun dan bahkan almarhum Gus Dur.

Mereka yang ingin merusak NU itu tak pernah berhenti berinovasi dan melakukan riset, tak jarang meraka menggunakan jasa (maaf) oknum “habib” dan “ulama”. Dan, oleh karena nahdliyyin sangat menghormati dzurriyah Nabi dan para pewaris Nabi, tak sedikit pula yang tadinya hormat taat pada kiai kampung malah ikut-ikutan oknum habaib dan pseudo ulama untuk menjelek-jekekkan (pengurus dan khususnya ketua) NU. Ini sudah marak di mana-mana. Politik “belah bambu” semacam ini bukan tidak kita sadari, tepi sedemikian gencar mereka mencari celah untuk provokasi sana-sini. Wal hasil, swing-nahdliyyin yang masih amatir dan skeptis, terombang-ambing dan lantas memilih manjadi “minhum”.

Anda tahu akar semua kegaduhan ini apa? Kehendak berkuasa yang menghalalkan segala cara, hasrat mengeksploitasi sesama manusia, segala kejahatan super canggih dan takut lapar 14 turunan, semua berangkat dari tak tahu malu tak tahu diri, tak tahu diuntung apalagi merugi.

Medsos adalah senjata mereka. Tak usah jauh-jauh mikir, Kisanak. Di zaman pemerintahan SBY, kenapa mereka meminta jabatan Menkominfo? Siapa yang paling aktif di dunia maya? Mengapa ustadz-ustadz dan pemberitaan tentang mereka segera menjadi viral? Mengapa mereka kuasai medsos dan segala bentuk propagandanya? Digoreng dengan bumbu-bumbu politik, dipanggang dengan aroma dan saus agama yang penuh intrik, direbus bersama kaldu sentimen etnik dan lantas disajikan di mulut-mulut mayoritas awam sebagai menu sehari-hari, tengik tapi nampak asyik, bikin ketagihan meski menyesatkan. Satu berita diviralkan dan dispiralkan oleh buzzer-buzzer bayaran lalu diproyeksikan—misalnya—untuk menggulingkan penguasa, dan bahkan mengganti ideologi Negara.

Kini, setelah tak lagi dapat jatah “kue” kekuasaan, mereka para pengasong agama itu membabi buta menyerang NU, meruntuhkan marwah PBNU, mengadu domba Banser, membentur-benturkan habaib dan para Kiai, tebar fitnah dan keributan dengan standar ganda bahwa merekalah yang paling otoritatif memiliki dan mewakili agama. Menentang mereka berarti menentang agama. Nah, sikap kita sebagai nahdliyyin milenial harus bagaimana?

Tidak ada bambu yang bisa melubangi dirinya sendiri untuk menjadi seruling, tidak ada bambu yang menyusun merekat diri mereka sendiri untuk menjadi rakit. Begitu pula NU. Jika ingin maju, NU milenial harus membentuk A-Team (attitude team) yang mendukung dirinya untuk maju melawan mereka, yakni: lingkungan, teman, medsos, keluarga dan buku-buku yang membentuk kepribadian kita sebagai nahdliyyin. Kabar baiknya kini (30/1/2019) situs nu.or.id nangkring di posisi paling atas dalam urutan Islamic Site Popularity mengalahkan eramuslim.com, portal-islam.id, muslim.or.id, almanhaj.or.id dan lain-lain.

Namun demikian, yang tidak boleh membuat NU milenial jumawa, Tuhan tidak pernah membangunkan para pemalas, perengek dan para peratap! Sehingga, akhir dari upaya terbaik manusia adalah awal dari campur tangan Tuhan, sehingga, stighosah, hizbun nashor, shalawat asyghil, dan amaliah-amaliah NU lainnya harus terus kita galakkan, sebab mereka telah mengepung kita dari berbagai penjuru.

Semoga kita semua mendapat barakah dan kearifan yang pernah dianugerahkan Allah kepada para muassis Nahdlatul Ulama. Alfatihah untuk para Kiai NU di harlah yang ke-93 ini dan ibu-ibu muslimat yang baru saja merayakan Harlah NU yang ke-73. Jayalah NU, jayalah NKRI, bangkitlah NU milenial dan generasi muda NU.

Salam takzim,



Ach Dhofir Zuhry
Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah, ketua STF Al-Farabi dan pengarang buku best seller Peradaban Sarung (Veni, Vidi, Santri).

Media NU

Media NU merupakan media berisi konten ke-Islaman, ke-NUan dan lainnya milik warga NU. Media NU diperuntukkan bagi warga NU pada khususnya dan bagi umat muslim pada umumnya.