Habaib NU Satu Konsep Perjuangan Sejak Dulu Kala Hingga Kini



Sangat indah apa yg digambarkan oleh salah seorang peminat study agama dan filsafat serta direktur lembaga Study of Philosophy Jakarta yang telah menulis banyak buku dan ratusan artikel di berbagai media nasional Husein Ja'far Alhaddar, yang juga semalam menjadi nara sumber dalam acara halal bihalal online yg diadakan oleh keluarga besar MATAN (mahasiswa thariqah) se-Indonesia, dalam sebuah artikel yang dia tulis, dimana dia mengatakan bahwa bila Islam diibaratkan dengan seekor burung, maka habaib dan para kyai NU bagai dua sayapnya. Keduanya harus selalu bersinergi dalam membangun Islam dan mengokohkan bangsa. Tanpa hal itu, mungkin kita bangsa Indonesia hanya akan menunggu krisis Islam di Timur Tengah akan segera singgah di negeri ini.

Oleh karena itu, NU dan Habaib tak dapat dipisahkan, mereka selalu selaras, seirama, seperjuangan, seiya dan sekata. Sejak dulu hingga kini, keduanya merupakan kekuatan yang sangat besar di negeri tercinta Indonesia ini, sehingga tak heran bila para pembenci NU dari kelompok Wahhaby, Salafy dan kaki tangan mereka yang memang cenderung ekstrem dan anti-cinta, anti-kebudayaan, anti-tasawuf, anti-NKRI terus berupaya untuk membenturkan antara keduanya.

Saya sempat berfikir lama dan berdiskusi kecil bersama teman-teman dekat kami yang memiliki konsep dakwah, pemikiran dan perjuangan yang sama usai membaca sebuah artikel yang ditulis oleh saudara Firman Syah Ali, salah seorang pengurus NU dan IKA PMII Jawa Timur dalam artikelnya yang berjudul "HABIB NU DAN HABIB FPI" dimana dia membahas secara rinci tentang sejarah para habaib dan saadah Alawiyin beserta perjuangan dan kiprah mereka, sejak generasi awal di negeri para leluhur dan kakek moyang mereka Basyrah Iraq, Hadhramut Yaman, India Barat, Asia Tengah, Cina, hingga Cempa, Cambodia Vietnam dan Nusantara, dari mulai ulama, negarawan, pejuang, politikus, wartawan, presenter, pemusik, artis hingga penyayi, dari yang terkenal hingga yang tidak diketahui banyak orang.

Lalu beliau membagi generasi diaspora para habaib dan saadah Alawiyyin tersebut menjadi tiga bagian, yaitu diaspora keturunan Imam Al-Muhajir satu, dua dan tiga, ketiga generasi diaspora tersebut memiliki corak, warna perjuangan dan konsep dakwah yang tersendiri.

Istilah diaspora digunakan untuk merujuk kepada bangsa atau penduduk etnis manapun yang terpaksa atau terdorong untuk meninggalkan tanah air etnis tradisional mereka; penyebaran mereka di berbagai bagian lain dunia, dan perkembangan yang dihasilkan karena penyebaran dan budaya.

Setelah panjang lebar menjelaskan tentang ketiga generasi diaspora tersebut, ada satu hal yang menggelitik pikiran dan otak kami saat penulis artikel tersebut memberikan keterangan dan itu merupakan ending dari artikelnya yang cukup panjang bahwa ketiga generasi diaspora tersebut memiliki titik temu dan titik pisah.

Titik temu antara Bani Muhajir Gelombang I, II dan III sebetulnya sangat kuat, yaitu titik temu genealogis, sesama keturunan Fathimah Az-Zahra ra dan titik temu teologis, yaitu sama-sama menganut teologi Ahlussunah Wal Jamaah, Asy'ariyyah Almaturidiyyah.

Namun kedua titik temu tersebut kemudian menjadi titik pisah karena para Bani Muhajir gelombang III memunculkan Thariqah Alawiyah dan FPI, sedangkan Bani Muhajir gelombang I dan II memunculkan Ahlusunnah Wal Jamaah An-Nahdliyyah dan Islam Nusantara. Hal itulah yang membuat kami terdorong untuk menggerakkan tangan kami untuk menulis tulisan yang sederhana ini, semoga dapat memberikan manfaat untuk diri kami dan untuk orang lain. Ada beberapa poin penting berkaitan dengan hal itu yang harus dikaji ulang, sehingga dapat memberikan kesimpulan yang tepat dan memberikan penilaian yang benar.

Menurut kami bahwa HABAIB DAN NU BERADA DALAM SATU KONSEP DAKWAH DAN PERJUANGAN, SEJAK DULU KALA HINGGA KINI.

Tidak ada titik pemisah, baik dalam generasi diaspora Bani Muhajir gelombang satu, dua maupun tiga, semua berakidahkan sama yaitu Ahlussunah Wal Jamaah, Alasy'ariyah (Imam Abu Al-Hasan Al-Asy'ari) dan Al-Maturidiyah (Imam Abu Mansur Al-Maturidi) dan mengikuti salah satu dari empat madzhab, yaitu Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali serta menerapkan dan mengamalkan dalam keagamaannya konsep tasawuf dan thoriqah, dan dalam berdakwah menggunakan metode hikmah, lemah lembut dan uswatun hasanah.

Adapun bila ada sekelompok habaib yang tidak sejalan dengan konsep tersebut, maka itu adalah oknum dan dalam sejarah pasti ada, dan itupun tidak mewakili, hal itu terjadi karena beberapa faktor, seperti asal pendidikan, guru, keluarga dan lain- lain.

Mengapa mereka yang hanya segelintir, karena kevokalannya dan ketenarannya, lalu dijadikan tolak ukur dan standar dalam sebuah penilaian? Bukankah di bumi nusantara ini ada ribuan dari Bani Muhajir gelombang III yang masih murni dan jernih dalam konsep perjuangan dan dakwah mereka, baik itu dari alumni lembaga pendidikan dalam negeri maupun luar negeri, Yaman, Mesir maupun negeri yang lain.

Sebagai contoh di Jawa ada Maulana Habib Luthfi bin Yahya, di Jakarta ada Habib Jindan dan saudaranya Habib Ahmad Bin Jindan, di Semarang ada Habib Umar Muthohhar, di Solo ada ada Habib Syekh Assegaf, Habib Muhammad bin Husein Alhabsyi, di Lampung ada Habib Yahya Assegaf, di Sulawesi ada Habib Abdurrahman Assegaf Puang Makkah, di Palu ada Habib Segaf Aljufri dan masih banyak lagi yang jumlahnya sangat banyak, dan mereka tersebar di berbagai kota di seluruh penjuru negeri Indonesia.

Mereka bukan saja sebagai ulama yang memiliki banyak ilmu, juga sebagai dai, memiliki santri, majlis taklim, pesantren, penutan umat, sangat santun dalam berdakwah dan moderat.
Bila kita menyimak sejarah kaum Alawiyin secara detail, manhaj dan metode dakwah mereka, dari mulai era Madinah, Irak, Hadhramut, lalu membaca tentang akidah dan thariqah mereka serta mempelajari tentang kehidupan keagamaan mereka saat berada di Tarim, lalu keluar berdakwah menuju India, Cempa, dan Nusantara, dan juga kiprah mereka dalam membangun beradaban dan seterusnya, maka mungkin dapat kita tarik kesimpulan beberapa hal.

1. Kesantunan adalah petanda atau karakter dalam aktivisme dakwah, muamalah dan dagang para habib saat mereka mengembara di berbagai wilayah, termasuk nusantara. Melalui kesantunan inilah para habib mendapat tempat dimanapun mereka berada. Karakter lain yang dimiliki mereka adalah kealiman, tidak hanya pengetahuan dalam bidang agama semata, tetapi juga dalam bidang ekonomi dan politik. Kesantunan dan kealiman multi disiplin inilah yang harus digali, dimengerti dan dimiliki oleh para habib dimasa kini.

Sebagai misal adalah kesantunan dikalangan para habib dan dakwah bilhal melului berbagai tradisi, seperti haul, pembacaan maulid dan shalawat serta qashidah serta kontribusi lain yang juga merupakan hazanah pembentuk karakter masyarakat di bumi dimana mereka perpijak dan berdakwah.

2. Disamping kesantunan, keilmuan, baik dalam ilmu ekonomi maupun politik, mereka juga adalah sosok ulama sufi, tasawuf dan ahli thoriqah.

Ketika bangsa ini dipimpin oleh ulama sufi, tasawuf atau ahli thoriqah, baik itu di era walisongo maupun di era perjuangan kemerdekaan, mengusir penjajah berhasil dilakukan dengan mudah, mestinya membangun negeri yang telah merdeka jauh lebih mudah daripada mengusir pejajah. Melepaskan derita pengagguran jauh lebih mudah dari pada melepaskan derita penjajah bangsa yang terlanjur dijajah.

Namun kenyataanya, kini, untuk mempertahankan ketentraman saja rasanya kita kewalahan. Ketika sedang terjajah, leluhur kita masih bisa berkonsentrasi untuk beribadah dan memerdulikan orang lain, sedangkan sekarang, banyak dari kita yang sudah merdeka hidup dalam kegelisahan sehingga tidak bisa berkonstrasi untuk ibadah dan memperdulikan orang lain. Ini adalah sebuah kelemahan yang memperihatinkan dan kelemahan ini tidak lain karena kita telah jauh dari pengalaman tasawuf dan thoriqah sebagaimana yang mereka telah lakukan.

Menurut kami ada empat konsep utama yang menjadi titik temu antara habaib dan NU.

Pertama, konsep religiusitas atau keagamaan. Habaib dan NU keduanya sama-sama berfondasi, mengusung, dan bervisi pada Islam moderat (tawassuth), toleran (tasamuh), dan cinta-kasih (rahmat).

Kedua, kultural. Gerakan dakwah Islam ke selatan hingga ke Asia Tenggara, khususnya ke Nusantara, yang salah satunya dipelopori oleh diaspora habaib dari Hadhramaut. Dakwah mereka berbasis akulturasi budaya. Seperti kental tampak dalam metode dakwah Walisongo , mereka bukan memberangus budaya Nusantara yang telah ada saat itu. Alih-alih justru menjadikannya gerbang dan media dalam dakwah.

Ketiga, spiritualitas. Habaib dan NU sama-sama pendaki jalan spiritual tasawuf, sebagaimana kami uraikan di atas.

Keempat, kebangsaan. Habaib dan NU sama-sama mengimani hubbul wathon (cinta Tanah Air). Jamiatul Khair (1903) yang merupakan lembaga pendidikan habaib tertua di Indonesia dan juga NU (1926) menjadi dua kekuatan Islam yang terbesar dan terdepan dalam menentang dan mengusir penjajah melalui pencerdasan anak bangsa.

Mereka juga yang sejak awal meyakinkan founding fathers bangsa ini bahwa meskipun negeri ini tak memilih untuk menjadi negara Islam atau daarul Islam, negeri ini tetaplah negeri islami atau daarus salaam dengan prinsip Pancasila-nya yang memang tak menerapkan Islam secara simbolik namun substantif berupa tauhid, kemanusiaan, dan keadilan.

Prinsip itu dipegang kuat hingga kini oleh keduanya, sebagai contoh, salah satunya tokoh habaib kontemporer yaitu Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan, dimana beliau menggelar pengajian di mana- mana dengan tema ’ “Bela Negara”.

Jika diperhatikan, keempat konsep pokok tersebut sebenarnya menjadi titik pembeda antara habaib, NU dan kalangan muslim lain yang non moderat, yang memiliki sikap anti-cinta, anti-kebudayaan, anti-tasawuf, anti-NKRI.

Dimana keduanya yakni NU DAN HABAIB akan menjadi identitas Islam Indonesia yang membawa Islam di negeri ini kian menjadi kiblat bagi muslim dunia.

Wallahu alam.
Pemalang, 7 Syawal 1441 H
Dari berbagai sumber.
Semoga bermanfaat.

Empat Jenis Manusia dan Pesan Syeikh Abdul Basith al-Fakhuriy



Syaikh Abdul Basith al-Fakhuriy, seorang Mufti Beirut di masa Daulah Utsmaniyyah banyak menulis kitab yang bisa diambil manfaatnya oleh generasi dimasanya dan juga dinikmati oleh generasi-generasi sesudahnya. Tidak hanya dijangkau oleh penduduk Beirut, namun kitab-kitabnya juga bisa dijangkau oleh orang diberbagai penjuru bumi. Tulisannya dianggap banyak kalangan bisa menjangkau apa yang tidak bisa dijangkau oleh lisan.

Diantara nasihat yang beliau sampaikan
"Manusia itu ada 4 macam :

Pertama, Orang yang tahu dan dia mengetahui bahwasannya dirinya tahu, maka dialah orang alim, ikutilah dia.

Kedua, Orang yang tahu dan dia tidak mengetahui bahwasannya dirinya tahu, maka dia bagaikan orang tidur, bangunkanlah dia.

Ketiga, Orang yang tidak tahu dan dia mengetahui bahwasannya dirinya tidak tahu, maka dia harus di arahkan, bimbinglah dia.

Keempat, Dia yang tidak tahu dan dia tidak mengetahui kalau dirinya tidak tahu, maka dia ini setan, jauhilah dia".

Sebagaimana Ulama' Ahlussunnah Wal Jama'ah lainnya, beliau tidak lepas untuk mengajarkan Aqidah Tanziih yakni mensucikan Allah ta'ala dari keserupaan makhluk-Nya. Hal itu terlihat dalam beberapa kitab beliau seperti dalam kitab al-Majalis as-Sunniyyah hal 2

قال "تنزّه اى الله عن المكان والزمان"

"Allah maha suci dari tempat dan masa". 

Dalam kitab yang sama, beliau menjelaskan tentang Aqidah Ummat Islam

قال : "لا ينبغي للإله الواحد الصمد أن يحتوى بمكان هو خالقه بل كان ربي ولا عرش ولا مَلَكٌ ولا سماء ورب العرش واجده وكـل من في مكان فهو مفتقر إلى المكان"

"Tidak layak bagi Allah al-Wahid ash-Shomad untuk bertempat di suatu tempat, karena Dialah Pencipta tempat. Tuhanku ada pada azal dan belum ada 'arsy, malaikat dan langit. Allah, Tuhan Penguasa 'arsy Yang Menciptakan 'arsy. Dan setiap yang bertempat berarti butuh kepada tempat". (al-Majalis as-Sunniyyah hal 119)

Dalam kitabnya yang lain, al-Kifayah li-dzawil-inayah hal 13 beliau berkata

"ولا يوصف بالكبر ولا بالصغر، وكل ما قام ببالك فالله بخلاف ذٰلك"

"Allah ta'ala tidak disifati dengan ukuran besar atau ukuran kecil. Apapun yang terlintas dalam benakmu, maka Allah tidak serupa dengannya"

Didalam kitab tersebut, beliau juga menjelaskan tentang Riddah yakni perkara yang menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam
, Mufti Beirut di masa Daulah Utsmaniyyah 
قال : "الردة وهي قطع مكلف الإسلام ولو امرأة بنية (اى اعتقاد) كفر أو فعل مكفر أو قول مكفر سواء قاله استهزاء أو اعتقادا أو عنادا. فمن أنواعها : أن يعزم الإنسان على الكفر أو اعتقد قدم هذا العالم أو عاب نبيا أو ملكا من الملائكة بشيء أو قال اليهود خير من المسلمين، فيكفر ويرتدّ بواحدة من المذكورات. وتجب استتابته في الحال. فإن تاب وأسلم بأن نطق بالشهادتين وأقرّ بما أنكره وتبرأ مما اعتقده أو تلفظ به قبل منه".

"Riddah adalah Memutus Islam yang dilakukan oleh orang mukallaf laki-laki maupun perempuan dengan meyakini keyakinan kufur atau melakukan perbuatan kufur atau mengucapkan perkataan kufur, baik dia mengucapkannya dengan tujuan mengolok-olok, meyakini, atau menentang. Diantara macam-macam riddah adalah seseorang berniat untuk kufur, atau meyakini bahwa alam semesta ada tanpa permulaan, atau mencela Nabi atau salah satu Malaikat, atau mengatakan "Yahudi lebih baik daripada kaum muslimin". Orang yang terjerumus dalam salah satu perkara tersebut, maka kufurlah ia dan gugurlah keislamannya. Dia harus di minta bertaubat seketika itu juga. Jika dia bertaubat dan masuk Islam kembali dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, mengakui apa yang ia inkari dan berlepas diri dari apa yang ia yakini atau ia ucapkan, maka diterimalah keislamannya".

Syaikh Abdul Basith al-Fakhuriy wafat pada sore hari Jum'at tanggal 2 Shafar 1323 H bertepatan dengan 1905 R. Hari meninggalnya merupakan hari berkabung bagi kaum muslimin di Beirut. Kesedihan mendalam atas meninggalnya salah Ulama' pewaris Nabi. Surat kabar banyak dipenuhi ungkapan turut berduka cita. Sementara itu, langit Beirut bergema oleh para muadzdzin yang mengumumkan kepergian sang Mufti.


Penggubah; Muhammad Sirril Wafa

8 Nasehat Syaikhina KH. Maimoen Zubair



1. "Ora kabeh wong pinter kuwi bener." 
(Tidak semua orang pintar itu benar).

2. “Ora kabeh wong bener kuwi pinter.” 
(Tidak semua orang benar itu pintar).

3. “Akeh wong pinter ning ora bener.” 
(Banyak orang yang pintar tapi tidak benar).

4. “Lan akeh wong bener senajan ora pinter.” 
(Dan banyak orang benar meskipun tidak pintar).

5. “Nanging tinimbang dadi wong pinter ning ora bener, Luwih becik dadi wong bener senajan ora pinter.”
(Daripada jadi orang pintar tapi tidak benar, lebih baik jadi orang benar meskipun tidak pintar).

6. “Ono sing luwih prayoga yoiku dadi wong pinter sing tansah tumindak bener.” 
(Ada yang lebih bijak, yaitu jadi orang pintar yang senantiasa berbuat benar).

7. “Minterno wong bener..kuwi luwih gampang tinimbang mbenerake wong pinter.” 
(Memintarkan orang yang benar .. itu lebih mudah daripada membenarkan orang yang pintar).

8. “Mbenerake wong pinter..kuwi mbutuhke beninge ati, lan jembare dhodho.” 
(Membenarkan -membuat benar- orang yang pintar itu membutuhkan beningnya hati, dan lapangnya dada).

Semoga bermanfaat..

Siapa yang Berhak Menentukan Mafsadah Corona itu Nyata atau Tidak?



Saya meyakini para ulama kita yang mumpun dalam qawaid ushuliyah - qawaid fiqhiyah dan maqashid as-syariah itu paham benar akan kaidah masalahah - mafsadah; azimah - rukhsah, taklifi - wadh’i; sadd dzari’ah dan konsep kunci lainnya. Perbedaannya adalah pada aplikasi kaidah dan pemahaman tentang persoalan atau kasus yang dihadapi.

Itu sebabnya dalam bahtsul masail berkenaan dengan perbankan, para ulama akan berkonsultasi dengan ahli ekonomi; berkenaan dengan kemasyarakatan, akan berkonsultasi dengan para pakar sosiologi dan tokoh masyarakat, serta dalam hal kesehatan akan berkonsultasi dengan para dokter, sebelum mengeluarkan fatwa. Ini agar pemahaman terhadap teks nyambung dengan konteks; atau pemahaman tentang kaidah sejalan dengan aplikasinya yang diterapkan untuk kasus tertentu.

Ambil contoh soal corona. Sebagian pihak menggunakan kaidah di bawah ini:
المصلحة المحققة مقدمة على المفسدة الموهومة
“Kemaslahatan yang nyata wajib didahulukan dari pada mafsadah yang belum nyata”

Para ulama kita yang alim dan mumpuni itu beranggapan kemaslahatan shalat jumat dan berjamaah di masjid itu sudah nyata, sementara mafsadah (kerusakan) akibat corona itu belum nyata. Kaidahnya benar. Namun aplikasinya belum tentu benar. Timbul pertanyaan:

1. Benarkah mafsadah corona itu belum nyata?
2. Siapa yang berhak menentukan status mafsadah corona tersebut?

Saya akan beri contoh: dilarang menggali sumur dibalik pintu karena akan mencelakakan orang yang akan melintas. Pada kasus ini, meskipun menggali sumur ada manfaatnya, namun diduga kuat (zhan) bisa membahayakan orang yang akan melintasnya. Apakah kita harus menunggu orang untuk kejeblos sumur dulu baru mengharamkannya? Di sini logika dan antisipasi ‘common sense’ berperan. Jika menggali sumurnya tidak di balik pintu, tapi di tempat yang lebih aman dari lintasan pergerakan manusia, maka hukumnya bisa berubah menjadi boleh.

Nah, sekarang apakah dugaan terhadap dampak kerusakan (mafsadah) virus corona itu sudah berada pada tingkat dugaan kuat (zhan) atau masih tidak nyata (mauhumah)?

Jumlah kasus positif virus corona hingga Jumat (27/3/2020) di Indonesia mencapai 1046 orang, bertambah 153 kasus dibandingkan hari sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 87 orang meninggal dunia dan 46 orang berhasil sembuh. Artinya, tingkat kematian kasus positif Corona mencapai 8,3 persen. Dari total 549.604 kasus virus corona di seluruh dunia, jumlah kematian mencapai 24.863 pasien, sedangkan 127.531 di antaranya telah dinyatakan sembuh. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah.

Satu hal lagi yang penting, para dokter menyatakan cara penyebaran virus corona ini bisa dibawa oleh orang sehat atau terlihat sehat. Dan akan fatal ketika orang sehat yang membawa virus di anggota tubuhnya ini kemudian berinteraksi dengan orang lain yang kekebalan tubuhnya tidak sekuat dia. Pada titik ini, karena belum dilakukan tes secara masif mengenai siapa yang positif terkena, maka di semua wilayah hukum Indonesia untuk langkah pencegahan dan antisipasi SEMUA orang diduga berpotensi menularkan dan tertular virus corona.

Itu sebabnya ada gerakan #dirumahaja atau bekerja dari rumah (work form home) karena kita tidak tahu siapa yang positif kena corona atau membawa virus meski terlihat sehat. Apakah dampak ini belum dianggap nyata oleh para ulama kita? Mau menunggu sampai berapa banyak lagi yang meninggal baru kita tergerak hatinya untuk melarang orang Jumatan? Apa menunggu keceblos sumur dulu, seperti contoh sebelumnya?

Kita bicara soal nyawa manusia. Menyelamatkan satu nyawa itu seperti menyelamatkan seluruh penduduk bumi. Angka kematian akibat corona di negara kita tertinggi di Asia Tenggara. Saya ngeri membayangkan dampaknya kalau kita tidak melakukan upaya antisipatif bersama. Ini bukan langkah panik. Justru ini langkah yang sangat rasional dan terukur.

Jadi, daerah yang dianggap masih aman itu sebenarnya belum tentu aman karena belum dilakukan test secara masif. Sampai di sini, semoga bisa dipahami dampak nyata corona itu.

Mafsadah yang mauhumah (belum nyata) itu contohnya gini: shalat jumat di masjid kita ganti dengan shalat zuhur di rumah karena ada jamaah yang kakinya korengan. Pertanyaannya ini penyakit menular bukan? Bukan, maka gak boleh Jumatan diganti zuhur.

Atau ada jamaah yang sakit pilek biasa. Pertanyaannya: meski menular, apakah pilek ini membahayakan? Tidak, maka gak boleh jumatan ditiadakan. Nah, virus corona ini memenuhi semua elemen tadi: menular dan membahayakan. Obat anti virusnya belum ada. Yang meninggal sudah banyak. Angka yang terkena juga semakin meningkat. Bahkan proses penularannya juga bisa dilakukan oleh orang yang terlihat sehat, gak pilek atau batuk. Masak belum bisa bilang ini mafsadah yang nyata?

Apalagi tuntunan agama membenarkan untuk kita mengganti Jumatan dengan zuhur di rumah. Atau shalat berjamaah di masjid diganti dengan jamaahan di rumah saja. Agama membenarkan. Lain halnya kalau kita membuat-buat aturan seperti gak boleh shalat di rumah sama sekali. Nah, ini baru gak benar.

Lantas siapa yang berhak menentukan ini mafsadah yang nyata atau tidak? WHO lembaga dunia sudah bilang ini wabah pandemi. Pemerintah sudah menetapkan status darurat bencana non-alam. Para dokter sudah mengatakan ini berbahaya. Lantas siapa lagi yang mesti kita percaya untuk menentukan kemafsadahan ini? Pada titik ini, kita memasuki wilayah fiqh siyasah. Kita harus taat pada ulil amri, yaitu pemerintah pusat. Ini bukan lagi wilayah ulama untuk menentukannya. Kaidahnya: hukmul hakim ilzamun wayarfa’ul khilaf. Para ulama hafal semua kaidah ini.

Semoga menjadi jelas bahwa virus corona ini merupakan mafsadah yang nyata, bahkan di daerah yang katanya belum terpapar sekalipun. Dan yang berhak menetapkan status mafsadah itu adalah pemerintah pusat karena kita satu kesatuan wilayah hukum (wilayatul hukmi). Ulama harus mendengar apa kata pemerintah. Pemerintah mendengar apa kata dokter atau ahli kesehatan. Maka insya Allah kita semua bisa berkordinasi mencegah meluasnya penyebaran virus corona. Kami hanya ingin para kiai, jamaah dan bangsa ini sehat dan selamat semuanya dari wabah pandemi corona ini.

Ya Lathif, ulthuf bina...

___________________

Corona dan Krisis Kemanusiaan


Imam Abdul Wahhab As-Sya'roni berpendapat bahwa seseorang tidak bisa dinamakan manusia yang sesungguhnya kecuali jika ia turut bersedih, berduka cita dan bersimpati kepada semua golongan manusia atas musibah dan bala' yang dialami oleh mereka. Karena kemanusiaan itu erat dan satu, kebaikan dinikmati bersama, sakit dan duka juga dipikul bersama.

Maka seseorang yang dengan santai tertawa, bersenang-senang dengan istri atau bahkan pergi jalan-jalan ke tempat wisata tatkala merambahnya musibah dan bala', maka ia dan binatang adalah sama.. "

Banyak saudara muslim kita yang kehilangan nurani dan rasa kemanusiaannya di awal merebaknya virus Corona.. Alih-alih bersimpati dan berduka, mereka justru bertakbir dan bersuka cita.

Tatkala virus Corona pertama kali muncul di China, banyak dari mereka bersorak gembira, mereka berkata :

"Allahu Akbar ! Rasain tu tentara Allah yang dikirim untuk membalas dendam atas apa yang kalian perbuat kepada Ummat Islam Uighur!"

Toh padahal kebanyakan korban yang terjangkit Virus adalah warga sipil yang tak tau menahu dan nggak ikut-ikutan konflik disana..

(Habib Ali ketika itu bahkan sampai berkomentar bahwa rasa gembira, tidak simpati atau bahkan nyinyir atas apa yang dialami para korban virus Corona di China adalah tindakan diskriminatif yang tidak ada kaitannya dengan agama, moral dan kemanusiaan).

Ketika Virus mulai masuk dan menyebar luas di Iran, mereka semakin menjadi-jadi, dengan pongah mereka berkata :

"Mampus kalian orang-orang Syiah ! Itu adalah Adzab yang dikirim Allah untuk kalian!"

Ketika virus mulai menyebar di Negara-negara Islam termasuk Saudi, suara-suara itu perlahan mulai terdengar lirih..

Ketika Virus mulai masuk ke Indonesia, Negara mereka sendiri.. Suara-suara kepongahan itu nyaris tidak terdengar lagi, meskipun masih ada sebagian orang yang masih saja menemukan target untuk dikambing hitamkan :

"Ini gara-gara Rezim Dholim.. Ini gara-gara pemerintah yang korup dan bla-bla-bla.. "

Tidak ada yang rela menyalahkan diri mereka sendiri seperti yang diperbuat ulama kita dulu tatkala Bala' dan wabah menyebar dimana-mana..

Saya seringkali mendengar Habib Umar bercerita tentang seorang ulama -kalo gak salah namanya Yusuf Bin Asbat - . Tatkala itu terjadi paceklik berkepanjangan di desanya. Karena terkenal sebagai sosok yang alim dan zuhud, Orang-orang mendatanginya untuk meminta doa agar Allah segera menurunkan hujan. Namun ia malah menangis dan berkata :

"Aku takut jika aku yang berdoa.. Bukannya hujan air , malah hujan batu yang akan turun atas kalian sebab diriku yang pendosa ini " jawabnya..

Di malam harinya salah satu penduduk desanya bermimpi mendengar sebuah panggilan :

"Sesungguhnya Allah akan mengangkat bencana ini karena barokah Yusuf Bin Asbat. "

Ada juga seorang ulama yang bernama Atho' As-Saliimi. - Bisa dibuka dalam kitab Tanbihul Mughtarrin karya Al-Imam As-Sya'rani Hal 57-. Beliau ini jika terjadi bencana alam di desanya, ia akan mendadak demam, wajahnya pucat pasi, ia lalu berkata :

هذا بذنوب عطاء لو أنه خرج من بلادهم لماخرج عليهم البلاء لولا عطاء لاستراح الناس

"ini semua gara-gara dosaku, jika aku keluar dari desa ini, maka tak akan ada bencana yang menimpa mereka. (Kasihan mereka) jika aku tidak hidup di desa mereka, maka mereka akan hidup tenang tanpa bencana "

Rasulullah Saw sendiri ketika beliau dipersekusi di Thaif, beliau dihina, dicaci, dilempari batu sampai kedua kakinya bermandikan darah, beliau menunduk menangis dan mulai berdoa dan mengadu, tapi bukan kejahilan dan kedzaliman penduduk Thaif yang beliau adukan dan keluhkan, Rasulullah malah berkata :

" اللهم إني اشكو اليك ضعف قوتي و قلة حيلتي و هواني على الناس و على المخلوقين .. "

" Ya Allah.. Aku mengeluhkan padamu kelemahanku, ketidak berdayaanku, dan kehinaanku di hadapan mahluk-mahlukmu.. "

Kalian tau ada satu sosok dalam Al-Quran yang suka menuduh orang/golongan lain sebagai biang turunnnya bala' dan musibah ?

Orang itu bernama Fir'aun

فإذا جاءتهم الحسنة قالوا لنا هذه و إن تصبهم سيئة يطيروا بموسى و من معه

Dalam Kitab-kitab tafsir disebutkan :

فإذا جاءت آل فرعون العافية والخصب والرخاء وكثرة الثمار, ورأوا ما يحبون في دنياهم (قالوا لنا هذه)، نحن أولى بها (وإن تصبهم سيئة)، يعني جدوب وقحوط وبلاء (يطيروا بموسى ومن معه) يتشاءموا ويقولوا : ذهبت حظوظنا وأنصباؤنا من الرخاء والخصب والعافية مذ جاءنا موسى

"Fir'aun dan pengikutnya, ketika mereka diberi kesehatan, kemakmuran, tanah-tanah subur, pohon-pohon berbuah lebat, mereka berkata :

"Kami berhak mendapatkan semua ini, ini semua karena "barokah" kami.."

Namun jika datang bencana dan musibah, tanah-tanah kering, hujan tidak turun mereka akan berkata :

"Ini semua gara-gara Musa dan pengikutnya.."

Mari sama-sama merenung dan berfikir.. Daripada mengkambing hitamkan individu atau golongan lain, belajarlah mencurigai diri kita sendiri, Jangan-jangan penyebab utama turunnya wabah ini adalah nurani dan kemanusiaan yang tanpa kita sadari mulai hilang perlahan dari hati kita..




_______________________
Bangkalan, 21 Maret, 2020